the psychology of likes
bagaimana angka kecil di bawah postingan mengubah kimia otak kita
Jujur saja, teman-teman. Kita semua pasti pernah mengalami momen ini. Kita baru saja mengunggah sebuah foto. Mungkin foto liburan, pencapaian karir, atau sekadar lelucon receh di sore hari. Setelah menekan tombol unggah, kita meletakkan ponsel. Tapi, lima menit kemudian, tangan kita tanpa sadar kembali meraih layar itu. Kita membuka aplikasi. Kita menarik layar ke bawah. Menunggu ikon kecil berbentuk hati atau ibu jari itu berubah warna. Menunggu angka nol berubah menjadi satu, sepuluh, lalu seratus. Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa sebuah angka kecil di bawah layar kaca bisa membuat jantung kita berdebar lebih cepat? Mengapa sekumpulan piksel itu punya kendali emosional yang begitu masif atas hari kita? Mari kita bedah fenomena ini bersama-sama. Ini bukan sekadar perkara narsisme digital. Ini adalah tentang bagaimana teknologi modern diam-diam meretas sistem saraf kuno di dalam kepala kita.
Untuk memahami keanehan ini, kita perlu mundur sebentar ke tahun 2007. Saat itu, seorang insinyur Facebook bernama Justin Rosenstein dan timnya sedang merancang sebuah fitur baru. Mereka awalnya menyebutnya awesome button. Idenya sangat polos dan penuh niat baik. Mereka ingin menciptakan jalan pintas agar pengguna bisa menyebarkan hal positif tanpa harus repot mengetik komentar. Fitur itu akhirnya diluncurkan dengan nama tombol like. Rosenstein mungkin tidak pernah membayangkan bahwa ia baru saja membuka kotak Pandora. Dalam sejarah evolusi manusia, diterima oleh kelompok adalah urusan hidup dan mati. Ribuan tahun lalu, jika suku kita menyukai kita, kita mendapat bagian makanan dan perlindungan. Jika kita diabaikan, kita mati di alam liar. Otak kita diprogram untuk selalu mencari validasi sosial. Tombol like mengambil kebutuhan evolusioner yang sangat mendalam ini, lalu mengubahnya menjadi sebuah metrik yang bisa diukur secara instan. Tiba-tiba, suku pelindung kita tidak lagi berada di padang sabana, melainkan ada di dalam kantong celana kita.
Namun, ada sebuah paradoks yang janggal di sini. Jika tombol like memang diciptakan untuk membuat kita merasa bahagia, mengapa kita sering kali justru merasa cemas karenanya? Coba perhatikan pola ini. Hari ini kita mengunggah foto dan mendapat 100 likes. Kita merasa luar biasa. Besoknya, kita mengunggah foto lain dan hanya mendapat 30 likes. Tiba-tiba, kita merasa ada yang salah. Kita mulai mempertanyakan diri sendiri. Apakah foto ini jelek? Apakah teman-teman mulai menjauhi saya? Padahal, 30 orang yang menyukai foto kita adalah jumlah yang cukup untuk memenuhi sebuah kedai kopi. Di sinilah letak misterinya. Otak kita seolah memiliki lubang tak berdasar yang tidak pernah puas dengan angka statis. Ada sebuah mesin tersembunyi yang menggerakkan kecemasan ini. Mesin itu tidak digerakkan oleh kepastian, melainkan oleh rasa penasaran dan ketidaktahuan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik tengkorak kita setiap kali layar ponsel itu menyala?
Mari kita bongkar rahasia terbesarnya. Jawabannya terletak pada sebuah molekul kecil bernama dopamin dan sebuah konsep psikologi yang disebut variable reward schedule atau jadwal penghargaan acak. Selama ini, kita sering salah sangka bahwa dopamin adalah hormon kebahagiaan. Padahal secara ilmiah, dopamin adalah hormon antisipasi. Dopamin tidak memuncak saat kita mendapatkan hadiah, melainkan saat kita menunggu hadiah yang tidak pasti. Pada tahun 1950-an, psikolog B.F. Skinner melakukan eksperimen pada tikus. Jika tikus menekan tuas dan selalu mendapat makanan, mereka cepat bosan. Tapi, jika tuas itu memberikan makanan secara acak—kadang dapat, kadang tidak—tikus-tikus itu menjadi terobsesi. Mereka menekan tuas itu berkali-kali tanpa henti. Teman-teman, saat kita menarik layar ponsel ke bawah untuk memuat ulang halaman, kita sedang menarik tuas mesin judi (slot machine). Kita tidak tahu apakah kita akan mendapat 5 likes, 50 likes, atau tidak ada sama sekali. Ketidakpastian inilah yang memicu ledakan dopamin besar-besaran. Kimia otak kita literally diubah. Perusahaan teknologi raksasa sangat memahami sains ini. Mereka mendesain algoritma untuk menahan notifikasi kita sejenak, lalu melepaskannya di momen yang paling optimal secara psikologis, hanya untuk memastikan kita terus kembali menekan tuas tersebut.
Mempelajari fakta ini mungkin terasa sedikit menakutkan. Tapi tujuan kita membahas ini bukanlah untuk memusuhi teknologi atau menyuruh teman-teman menghapus semua akun media sosial. Tidak sama sekali. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kendali ke tangan kita. Sangat wajar jika kita merasa senang saat mendapat apresiasi digital. Kita bukan makhluk yang lemah; kita hanyalah primata dengan otak kuno yang sedang berhadapan dengan kecerdasan buatan bernilai miliaran dolar. Memahami cara kerja dopamin adalah langkah pertama untuk membangun empati terhadap diri kita sendiri. Mulai sekarang, setiap kali kita merasa sedih atau cemas karena angka di bawah postingan tidak sesuai harapan, mari kita tarik napas panjang. Ingatlah bahwa angka itu bukanlah nilai dari harga diri kita. Itu hanyalah hasil dari kalkulasi matematika dingin sebuah algoritma. Kita jauh lebih kompleks, lebih berharga, dan lebih nyata daripada sekadar angka kecil di balik layar kaca.